Rabu, 04 September 2019

Niat



 Weekend telah usai, saatnya kembali kepada semua aktivitas masing – masing.
“Ma, berangkat ya?”, kataku.
“Ia, hati – hati, naik motornya gak usah buru – buru.”, mama berpesan.
“Berangkat pak, Assalam’mualaikum.”, akupun pamit.

Motor sudah disiapkan oleh bapak, tas sudah aku siapkan, langsung saja ku bawa, pakai kaos kaki, sepatu dan memastikan dandananku oke. Dan berangkat.
-          Sampai kantor -
“Assalam’mualaikum”, salamku.
“Walaikummussalam”, beberapa teman menjawab.
“Alhamdulillah”
Segeraku duduk dan menghela nafas panjang ku setelah melewati rintangan di dalam perjalanan, terkadang cara konsentrasi dan fokus ku yang kurang tepat, jadi mengendarai motor itu begitu menegangkan buatku, belum lagi klason – klakson mobil besar dan trailer yang kala itu harus mengklason kecepatanku dalam mengendarai motorku si merah.
Kenapa perutku terasa begitu kenyang, mencoba mengingat apa yang sudah aku makan pagi ini, Astagfirullah, bagaimana tidak kekenyangan orang tadi makan 3 bakwan dalam sebungkus nasi uduk, dan sambel kacang yang pedas dan gurih itu rasanya. Giliran sekarang baru deh kerasa efeknya diperut. Baiklah, kejadian ini belum juga membuat aku takut untuk makan bakwan sambel lebih dari satu. Lanjutkan.
“Mau kemana ta ?”, tanya bosku.
“Mau ke toilet dulu bu”, jawabku.
Toilet kantor yang kramat, terletak disudut gang pintu belakang kantor, melewati cermin diatas wastapel sebelum memasuki pintu toilet, akh sial sekali aku, kenapa mendengar cerita – cerita itu. Padahal diluar sana matahari terang benderang. Kenapa sudah menggunakan lampu tetap saja sudut toilet ini terlihat remang – remang dan bau hampa. Padahal ini pagi hari, suasana hati merusak niat dari hajat yang mau ku selesaikan. Walau bagaimanapun rasanya ini harus ku lanjutkan.
Srrrggg....srrgggg... “bu, bu, bu nur”. Teriakku dalam toilet.
“Woi”
Entah itu jawaban suara siapa, hanya satu kata woi. Kembali untuk fokus dan selesaikan urusanku di dalam toilet kramat ini. Keluar pintu toilet dan katakan kaburrrr, diirinig larian dan seradak seruduk oleh tubuhku yang tidak kecil ini.
Huft... (helaan nafas)
“Kenapa loe ta ?”, tanya seorang teman.
“ Gak, gw gak kenapa – kenapa”, jawabku. (sambil membuang nafas huuufftt)
Ex heal, in heal. Biasanya aku gak pernah takut sama yang begitu, begitu. Ya percaya ada, tapi ini gara – gara semalam habis lembur, pakai dengar cerita horor disekitaran itu toilet. Jadi hawanya masih terasa apa yang didengar dari cerita, tahu gini efeknya mah, malas dengar kisah – kisah dari yang dialami teman – teman.
Kring...kring...kring...(suara dering handphone)
“Assalam’mualaikum, hallo mi “.
Percakapan pun berlangsung.
Huft. Hhhhhmmmm.
Menarik nafas panjang dari sebuah tawaran yang sebelum – sebelumnya selalu memberikan jawaban “belum siap”. Berapa umurku sekarang ya ? Baru 22 tahun meranjak tahun ke 23, apa ia aku sudah siap ? Ya Allah, apa yang harus kuputuskan, hhuuuffttt.
“Ta, .... !” , bos memanggil.
“Ia, bu. Ada yang bisa saya bantu bu ?” (sambil berjalan menuju tempat duduk bos)
“Sudah dibuat jurnalnya ?”
“Jurnal ... jurnal ... gimana maksudnya bu ?”
“Tagihan pembayaran yang tadi diverifikasi, sudah dibuat jurnalnya belum ?”
“Oh, ia bu, baru aja mau saya buat.”
“Sudah 15 menit berlalu ko baru mau dibuat ?”
“Tadi, ini bu, lagi....ya udah saya buat jurnalnya dulu ya bu.”
(Kabur ke tempat)
Membuat jurnal adalah tugas utama yang harus selalu dikerjakan, karena dokumen yang datang hari ini harus keluar dan dikirimkan hari ini juga kepada petugas selanjutnya.


Bersambung ...........................